Seputar DKV
2024-10-01
Seputar DKV
Bandung, 22 September 2024 - Sebuah webinar
bertajuk "Pendanaan Film Animasi Independen" diselenggarakan melalui
Google Meet. Acara ini menghadirkan narasumber Hizkia Subiyantoro, seorang
praktisi dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri animasi, serta
dimoderatori oleh Bambi, seorang pengamat animasi. Webinar ini diselenggarakan
oleh komunitas Pengajianimasi dan dihadiri oleh para pelaku industri kreatif,
mahasiswa, hingga penikmat animasi yang ingin memahami lebih jauh tentang
seluk-beluk pendanaan animasi independen.
Menjual Ide: Tantangan Besar Industri Animasi
Di awal diskusi, Hizkia menggarisbawahi sebuah tantangan
mendasar yang kerap dihadapi para kreator, yakni bagaimana menjual ide, bukan
sekadar produk jadi. "Kita bisa punya produk, tapi bagaimana cara menjual
ide?" ungkap Hizkia. Hal ini mencerminkan kesulitan yang kerap dialami
kreator lokal dalam mendapatkan pendanaan untuk proyek animasi. Selama lebih
dari satu dekade, Hizkia telah merasakan pahitnya kebangkrutan studio animasi
yang ia dirikan, namun justru dari kegagalan itu ia belajar pentingnya membangun
koneksi dan komunitas yang mendukung ide-ide kreatif melalui pendekatan
Creative Commons.
Animasi Sebagai Alat Ekspresi dan Semiotika
Hizkia juga berbicara tentang kekuatan animasi sebagai alat
untuk bercerita. "Animasi itu imajinatif, sangat kuat dalam mengungkapkan
ekspresi, dan bahkan bisa melindungi narasumber dengan cara memvisualisasikan
mereka," jelasnya. Animasi tidak hanya sekadar hiburan, tapi juga
menyampaikan makna yang lebih dalam melalui simbol-simbol visual. Ia mengaitkan
animasi dengan semiotika, dan menyebut bahwa film animasi bisa berdiri sendiri
sebagai media yang menyatukan sinema dan seni visual.
Pendanaan: Mulai dari Ide hingga Distribusi
Salah satu bagian yang paling dinantikan dalam webinar ini
adalah pembahasan terkait pendanaan film animasi. Hizkia memaparkan bahwa
pendanaan bisa diperoleh dalam tiga tahap utama: pengembangan, produksi, dan
distribusi. Namun, menurutnya, banyak kreator animasi Indonesia masih
menghadapi tantangan dalam mencari pendanaan, terutama pada tahap distribusi.
"Indonesia masih susah mencari pendanaan karena pasar kita sering dianggap
absurd. Kebanyakan pendanaan justru datang dari luar negeri," tambah
Hizkia, seraya menyebut Annecy, salah satu festival animasi terbesar di dunia,
sebagai contoh tempat di mana kreator bisa belajar dan mempromosikan karya
mereka.
Kreativitas vs Bisnis: Dilema Kreator Animasi
Dalam webinar tersebut, Hizkia juga menyoroti bahwa banyak
pembuat film animasi di Indonesia yang kurang memperhatikan aspek bisnis.
"Kita, para kreator, sering kali tidak terlalu peduli pada bisnis. Kita
hanya fokus pada alur cerita, konsep, dan visual," ujarnya. Kondisi ini
menurutnya dimanfaatkan oleh para pebisnis film yang lebih melek terhadap
perkembangan industri, sehingga sering kali keuntungan kreator tergerus karena
kurangnya pemahaman akan nilai komersial dari karya mereka.
Tantangan dan Peluang di Tengah Dominasi Pop Kultur Asing
Diskusi juga mencakup bagaimana animasi dan budaya pop
sering dianggap sebagai "serangan asing" yang memengaruhi budaya
lokal. Hizkia menjelaskan bahwa budaya pop, seperti anime dan K-pop, bisa
menjadi daya tarik bagi mereka yang rentan secara emosional atau sosial. Namun,
hal ini bukan berarti sepenuhnya buruk. Justru, pop culture ini bisa menjadi
sarana untuk menjembatani diplomasi budaya. "Bahasa Jepang bisa lancar
hanya karena sering nonton anime, bahkan ada yang menggunakan animasi untuk
diplomasi kuliner," jelasnya, menekankan potensi animasi sebagai media
soft power.
Q&A: Membangun Mental Kreator yang Tangguh
Sesi tanya jawab pun menjadi ajang interaksi hangat antara
peserta dan narasumber. Salah satu pertanyaan menarik datang dari seorang
peserta yang bertanya bagaimana cara menghadapi stigma bahwa animasi hanya
untuk anak-anak, yang mungkin menghambat pendanaan dari investor. Hizkia
menegaskan bahwa hal ini sangat dipengaruhi oleh pola asuh yang kurang tepat,
serta rendahnya apresiasi terhadap animasi sebagai karya seni.
Webinar ini berhasil membuka wawasan banyak pihak tentang
pentingnya sinergi antara kreativitas dan bisnis dalam industri animasi. Dengan
adanya acara seperti ini, diharapkan ekosistem animasi Indonesia dapat semakin
berkembang dan memperoleh dukungan yang layak, baik dari segi pendanaan maupun
apresiasi masyarakat luas.